Meritogonometri

Melihat cara mencapai kemampuan dengan pendekatan trigonometri

"Orang lain bisa, masa kamu tidak?" tak asing dengan kata demikian? Biasanya saat kita tak mampu mencapai suatu keahlian (skill issue) ataupun dibandingkan-bandingkan dengan orang lain.

Kita cenderung melihat kesamaan dalam kondisi seperti itu, dia makan nasi pakai tangan kok bisa pintar matematika. Kalau gagal melihat ada kesamaan, mencari perbedaan mencolok dan bergengsi sebagai , seperti "Ah diakan kuliah makanya pintar" dan sebagainya.

Tinggal dilingkungan penuh dengan kepiting darat, fenomena ini hampir seperti batuk, lazim namun risih melihatnya. Seseorang dilihat karena prestasinya, ibarat pelaut melihat mercusuar saat malam namun gagal melihat tiang penopang lampu: usaha dan kerja keras.

Fenomena diatas disebut dengan zero-sum thinking, sebuah bias jika keberhasilan ditopang oleh takdir atau latar belakang bukan usaha atau kerja keras. Sudah mengerahkan segenap jiwa raga berkerja tapi masih dianggap tak berusaha.

Simentri, Asimetri dan Supersimetri

Setiap orang bisa berjalan ke Roma, namun jalan banyak jalan untuk pergi kesana.

Ada dua gadis, Nagisa dan Hifumi. Mereka ingin pergi ke festival Peroro Friends. Lokasi itu berada di Central Plaza Trinity. Mereka berdua hendak bertemu untuk beli es krim dan merch.

Disini kita melihat Simetri (kesamaan).

Tak ada satu unsur yang bisa hadir di satu tempat dalam waktu yang sama di alam semesta, begitu pula Nagisa dan Hifumi (asumsikan mereka tak interferensi kuantum).

Hifumi berada di kelas mendekati waktu pertemuan, ia terjebak di kelas tambahan karena nilai akademiknya menurun. Jarak dari Central Plaza Trinity lima belas menit naik kereta. Kemungkinan besar Hifumi terlambat.

Di sisi Nagisa, ia berada dikondisi yang lebih mendukung. Ia ada rapat dengan anggota Tea Party di kantor pusat Tea Party, jaraknya dengan pusat kota tak sampai 10 menit berjalan kaki.

Terlihatlah sebuah Asimetri (perbedaan). Mari kita selidiki sudut pandang Hifumi, sebagai pihak dalam ketakberuntungan.

Mengandaikan Nagisa pasti datang tepat waktu dan menunggu dirinya karena tempat yang lebih dekat, adalah satu hal. Hifumi merasa malu bila telat undangan kencan oleh orang nomor satu di Trinity. Belum lagi ia harus lengkap mencatat.

Penyadari asimetri ini memerlukan kesadaraan diri untuk menjadi modal mengambil posisi diri, ibarat kertas origami untuk melipat keadaan. Hanya asimetri dari simetri milik kita sendirilah yang berada didalam kendali kita, disitulah awal terjadi perubahan.

Berapa waktu tempuh kesana? Alternatif yang lebih cepat? Apakah Nagisa akan marah? pertanyaan itu memenuhi tempurung kepala Hifumi ketimbang pelajaran Sensei di kelas. Semua begitu sampai di menit-menit akhir pelajaran. Meminta bantuan Koharu, sayapnya terlalu kecil untuk terbang. Tak usah tanya Hanako, alih-alih pergi ke festival, ia kemungkinan akan menyekap Hifumi di kamarnya dan bermain dinosaurus glow in dark di bawah selimut.

Azusa bernasib lebih parah dengan Hifumi, ia hendak pergi ke festival untuk beli merch tapi ada misi untuk mengunjal rudal di Arius dan berbeda jalur keberangkatan. Sensei bertanya ke Hifumi yang terlihat tidak tenang saat hendak pulang. Hifumi terkejut, betapa ia napak kegelisahaan. Ia bercerita soal acara di Central Plaza Trinity, dengan kedua terunjuk berputar-putar di roknya.

Tak sampai sepuluh menit berselang. Hifumi tiba di helipad Central Plaza, ia menunduk berterima kasih kepada Sensei atas tumpanganya. Optimis mengalir deras dalam senyum Hifumi, langit Kivotos menjadi saksi.

Setibanya lantai bawah. Nagisa menunggu sambil menikmati Earl Gray. Menjadi kejadian tak terduga kedua di hari ini. Mereka saling bertukar kabar, melepaskan rutinitas harian sebelum berangkat ke festival.

Dua orang dengan cerita berbeda menjadi satu alur yang sama (Supersimetri), ketika sebuah asimetri berbeda yang menghasilkan simetri yang sama.

Ad Astra Per Aspera

Walaupun, ada kemungkinan kencan batal atau diundur saat malam. Perubahan simetri bisa saja terjadi seperti memecah simetri menjadi kumpulan simetri kecil yang mudah terjangkau (Subsimetri) dari simetri untuk mencapainya -- Divide-and-conquer algorithm.

Akan tetapi, bila ruang untuk melipat asimetri terlalu jauh untuk simetri maka mencari simetri yang lebih sesuai dengan keadaan dan situasi namun baik mempertahankan semangat simetri sebelumnya atau tidak sama sekali (Altersimetri), misalnya ingin minum matcha mahal, maka alternatinya beli matcha bubuk dan seduh sendiri agar lebih ekonomis, beli matcha rasa-rasa, minum air biasa atau tidak sama sekali.

Alih-alih melipat asimetri menjadi simetri baru, kita menentukan simetri yang terjangkau oleh asimetri kita atau mungkin Superasimetri -- asimetri yang terlampau berada diluar kendali kita: faktisitas, seperti kamu tak bisa bergerak dalam kecepatan cahaya secara alami atau lahir dengan makna hidup bawaan.

Jika Hifumi dan Nagisa hendak kencan namun tak ada waktu, bisa mencari kompensasi lain untuk tujuan yang sama atau cukup menanyakan saja meskipun tahu tak mungkin (intensi juga sudah menjadi bentuk simetri), ketimbang diam tak menyampaikan perasaan berharga itu.

Fraktal

Simetri ini dibentuk oleh kehendak dan kemampuan manusia untuk mencapai apa yang dia inginkan. Walaupun kenyataan suka tak mendukung karena asimetri kita. Bila ditarik lebih jauh, bentuk simetri-asimetri-supersimetri-superasimetri ini menjadi membentuk fraktal kehidupan kita.

John Locke bilang bahwa manusia muncul ke dunia bagai kertas kosong (tabula rasa) ibarat papan tulis yang bersih sebelum kelas pelajaran dimulai. Dari bentuk-bentuk yang telah disebutkan kita belajar menyusun keinginan, harapan atau semangat. Terkadang membentur kurang ketidakmampuan secara keahlian, kesadaran, modal, sosial ataupun lingkungan.

Disitu kita belajar menghadapi kenyataan yang tak bisa semau kita dan juga tak mendukung kita sama sekali. Mengisi papan tulis itu dengan simetri, menerima asimetri, altersimetri dan supersimetri untuk mencapai supersimetri.

Simone de beauvoir pernah bilang: "Seorang perempuan tak dilahirkan, ia dibentuk", dan ini benar adanya. Fraktal yang menjadi bentuk hidup kita yang kita lahir tanpanya, dan tanpanya kita hidup dan membangun fraktal yang kita ingin hidupi di tengah getirnya kenyataan. Terbentur kerasnya kenyataan yang membentuk fraktal kita

Karena kita yang mengisinya dengan fraktal-fraktal, dan ini mengapa terkadang membandingkan diri dengan orang lain terasa absurd karena setiap orang punya asimetri tersendiri, yang mudah diangkui ataupun dikubur sampai mati.

Seperti misalnya ungkapan seperti "Coba lu jadi miskin biar ngerasain penderitaan gw" ucap itu kepada orang kaya sekaligus mempersekusi karakter orang itu agar tunduk dengan ide si pembicara, tentu orang itu akan mengalami kemiskinan namun tetap berbeda karena orang yang dituju pernah kaya dan si orang satunya tidak, belum lagi mengalami "kaya" itu sendiri memiliki banyak jalan.

Ini juga yang membuat memahami orang secara penuh mustahil, kita mungkin bisa mengira dari simetri yang sama-sama kita miliki atau asimetri yang terwujud dan berhasil diamati/diketahui, tapi tak sepenuhnya melihat fraktal bahkan manusianya sendiri sekalipun, sebuah batas epistomologis.

Kesimpulan

Masalah kemampuan dan keinginan menjadi kutukan melekat bagi eksistensi yang hidup, keinginan primordial kita (will) tak mudah diwujudkan (representation). Namun, permasalahan ini mirip ujian hidup (ehem yang sering umat relijius bilang ujian Tuhan) yang membentuk batas-batas kita dalam memandang dunia dan mengatasinya, yang berasal dari ketidakjelasaan kita hidup.

Hidup memang sulit, terkadang payah, kita harus berpikir untuk menghajarnya dan bermimpi sebagai nalar untuk tak terus-menerus dijajah oleh kenyataan yang tak begitu mendukung kita.

Enjoy this ? Please consider rooting for Yukari's craft.