Sebuah hasrat underated yang menerangi kehidupan.
Saat ketika di penghujung masa SMP, Yukari mendengar wejangan menarik saat pidato upacara kelulusan. Ini disampaikan oleh Pak Agus guru biologi:
Jangan hanya belajar memlalui sekolah saja. Kamu hanya jadi miskin bukan pintar, hamburkan buang uang untuk ijazah tapi tak ada satupun ilmu yang membekas di kepala. Ibarat tahu, otak licin dan gak ada liuknya. Carilah ketertarikan, belajar otodidak, turuti rasa ingin tahumu. Kejarlah itu selagi mampu, dunia terlalu luas untuk dipelajari di sekolah. Masa tua kamu akan berterima kasih kepada masa mudamu.
Kira-kira begitu intinya, itu sudah 15 tahun silam sejak tulisan ini dibuat. RIP Pak Agus.
"Ketertarikan" (passion) adalah kata kuncinya, "Otodidak" adalah metodenya, "Rasa ingin tahu" adalah jalannya. Jawaban Yukari ialah bahasa, seni dan komputer. Kala itu Yukari penasaran bagaimana komputer bisa membuat sebuah program, terutama bosan dengan program yang ada.
Kata-kata itu datang kembali. Masa-masa dewasa yang penuh dengan kemonotanan dan juga ketidakpastian, semakin hari rasanya kelabu oleh kesibukan dan rutinitas yang tak ujung dan hilang gairah. Masa depan indah seperti yang dibilang oleh orang-orang terdahulu telah menjadi hinaan ketimbang sebuah harapan.
Awalnya sulit melawan rasa sesak dari kehidupan yang begitu-begitu saja, sudah banyak Yukari menahan (menekan) perasaan ingin belajar gambar, seni atau jujur dengan bidang komputer yang Yukari gemari. Apa yang Yukari lakukan terasa tak jelas setelah berani berhenti menekan diri dan mulai jujur.
Semuanya terfokus demi kuliah (walaupun akhirnya tak selesai) dan prospek kerja, berkerja di bidang web meskipun tidak terlalu mengemarinya. Tak meneruskan bidang gambar dan seni karena iming-iming uang oleh keluarga (sebuah keyakinan buruk).
Pada akhirnya muncul teknologi Akal Imitasi yang membuat semuanya menjadi sempurna: sulitnya masuk dunia kerja dan memudahkan menopang untuk bekerja mandiri namun membuat kerja manusia terasa kurang bermakna di mata kapital.
Seni yang Yukari selama ini tekan, menemukan singasana-nya. Bidang yang tak mudah untuk akal imitasi serang, dunia subjektivitas.
Mungkin disini juga membuat Yukari menanyakan objektivitas dan meruntuhkanya karena objektivitas hanya berlaku didalam subjektivitas, kita bisa menilai orang melakukan sesuatu tak saintifik namun disisi lain kita bisa menilai itu tindak kreatif seperti membaca kartu tarot atau berlari di padang bunga daisi menatap biru langit yang tak berhujung.
Absurditas yang Yukari hadapi perlahan mulai terlihat sebagai sebuah jawaban. Terkadang kita harus memberontak terhadap kenyataan, dalam artian melakukan perlawanan kecil yang sedikit tapi banyak, bukan revolusi tai ayam, untuk melihat karakter lain kenyataan yang kita hadapi.
Kita mengejar apa yang kita hasrati/ apa yang membuat kita tertarik, membuat pilihan untuk dan mewujudkanya (baca Meritogonometri).
Di situ kita membangun rumah untuk kebebasan, mungkin bermain violin atau memulai kehidupan kedua sendiri atau bersama orang yang diinginkan di tempat yang jauh hingga kenangan masa lalu menyerah untuk mengejarnya.
Hidup mungkin tak jelas, tak berarti, tak mudah tapi belum tentu itu tak layak dijalani.
Namun ada baiknya kita membataskan diri dan menengok masalah ini: Bekerja untuk uang dan memberi makan passion. Ada orang bilang mengejar passion akan miskin dan bekerja untuk uang akan kaya, ini sebuah penyederhanaan yang menyesatkan.
Uang memang bisa mewujudkan hidup enak dan passion menjadi pemberi corak identitas pada hidup. Tapi kedua ini adalah sesuatu kebutuhan dasar manusia, ia tak bisa selamanya rasional terus mencari uang. Ada kala ia jenuh dan mencari pelarian, baik dari hiburan, adiksi ataupun mengejar ketertarikan.
Penyesatan disini adalah mereduksi manusia sebagai homo economicus, sekrup kapitalisme yang membiasakan diri dan mengejar optimisasi kerja mereka dan melupakan watak manusia yang lebih bernuansa seperti Homo ludens, Homo sefra, Homo absurdum dan sifat irrasonal manusiawinya.
Sama seperti sisi rasionalnya, manusia punya kebutuhan irrasionalnya. Misalnya saat SMA, buat apa Yukari beli violin saat SMA padahal mengambil jurusan yang tak ada hubunganya dengan itu (jurusan IPA dan IPS sama-sama mengesampingan seni sebatas kebutuhan kurikulum), lebih baik membeli buku polio selusin atau jas lab dengan kacamata pelindung.
Toh tetap saja Yukari menuruti keinginan itu, alasan sederhana, karena Yukari ingin memainkan musik dan mengusir kebosanan karenanya. Meskipun masih SMA, tak selamanya kita berfokus pada satu hal dan itu kesalahan Yukari karena terlalu fokus sehingga lupa perlu ketertarikan yang bersifat failsafe.
Meskipun Yukari seorang siswi SMA, hidup Yukari lebih luas dari sekedar ruang kelas, buku-buku pelajaran dan PR besok.
Mereka bilang mengejar passion adalah pemiskinan diri sedangkan mereka menikah dan punya anak demi gengsi generasional yang sama-sama buang-buang uang demi sebuah dorongan dopamin, apalagi dalam ekonomi yang martabatnya ditentukan oleh pidato absurd seorang politikus ketimbang interaksi pasar organik.
Keterarikan ini menjadi alat perlawanan untuk tak terus-menerus di perkosa oleh kenyataan yang acap kali tak mengakomodir visi dan semangat kita dengan tantangan untuk terus bertahan hidup dengan menghadapi kenyataan karena disana kita menemukan bahan baku untuk hidup dan melawan.
Enjoy this ? Please consider rooting for Yukari's craft.